PERENCANAAN DESAIN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BERBASIS E
AGRIBUSINESS PADA KOMODITAS KEDELAI
Zainul Arham
Dosen Program Studi Sistem Informasi
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
E-Mail: zainul.arham@gmail.com, zainul.arham@uinjkt.ac.id
Abstrak
Tantangan perdagangan global merupakan tuntutan di setiap
lini
transaksi perdagangan, termasuk di komoditas kedelai yang
mengharuskan transaksi cepat dan akurat. Perluasan jangkauan
pasar
untuk komoditas kedelai dapat dilakukan dengan menggunakan
teknologi
informasi berbasis e-Agribisnis. Sebuah pangsa pasar yang
besar akan
memberikan kesempatan kepada petani dan pengusaha kedelai
untuk
meningkatkan produk dan untuk memperluas jangkauan pasar.
Untuk
membangun sistem transaksi yang cepat, prototipe
e-Agribisnis dilengkapi
dengan sistem pendukung keputusan dan sistem keamanan
diperlukan
untuk memudahkan transaksi dalam pasar. Sampai saat ini,
teknologi
informasi belum dimanfaatkan secara optimal dalam
pengembangan
pasar komoditas kedelai di Indonesia, khususnya dalam
merespon
tantangan perdagangan global dan persaingan produk dengan
negara
negara lain.
Kata Kunci: e-Agribisnis, komoditas kedelai, sistem
penunjang keputusan
Abstract
Global trade challenges require all trading transactions,
including those in soybean commodity, to be conducted at a high speed and
accuracy. Expansion of market reach for soybean commodity may be done by using
information technology in the form of e-Agribusiness. A large market share
would give an opportunity to the farmers and soybean entrepreneurs to increase
their product and to expand their market reach. To build a fast transaction
system, an e-Agribusiness prototype completed with a Decision Support System
and a security system is required in order to ease the transactions within
markerters. Until now, information technology has not been utilized optimally
in the market development of soybean commodity in Indonesia, in particular in
response to global trade challenges and product competition with other
countries.
Key words: E-Agribusiness, Soybean commodity , Decision
Support System.
PENDAHULUAN
Pengembangan pasar komoditas pertanian dengan menerapkan
teknologi informasi telah dilakukan di beberapa negera Asia. Pada tahun 1983
Jepang mengembangkan sistem informasi agribisnis berbasis jaringan melalui
sistem informasi pasar versi NAPASS (Nationwide Agricultural Product) yang
didukung oleh 63 pasar induk dengan 156 komoditas pertanian baik dari dalam
negeri maupun luar negeri (Nanseki, 2003). Selanjutnya Hoa (2004) menjelaskan
bahwa sejak tahun 1996 Taiwan mulai mengembangkan sistem informasi harga dan
pemasaran berkelompok yang didukung oleh 78 pasar induk, sedangkan Vietnam
mengembangkan sistem informasi produk pertanian tahun 1993 dengan versi VINAMET
(Vietnam Market Information Network).
Penelitian yang terkait dengan rancang bangun sistem
informasi di Indonesia antara lain dilakukan oleh Eriyatno (2005) yang
menghasilkan prototipe Sistem Informasi Agroindustri (SIAGRI) dengan
karakterisrik sistem multi konteks, multi komoditi, multi relasi dan multi
user. Sistem informasi ditujukan untuk penyediaan informasi yang berhubungan
dengan sarana produksi, nilai ekonomi, situasi pasar, komoditi ekspor potensial
dan proses pengolahan. Informasi dan pendukung keputusan yang berhubungan
dengan produk pertanian belum tercakup dalam sistem tersebut.
Posisi Indonesia sebagai negera pengimpor kedelai tidak
menguntungkan secara ekonomis terutama dilihat dari sisi penerimaan negara.
Secara umum Indonesia memiliki potensi pengembangan kedelai dengan pangsa pasar
domestik dan regional yang besar. Pangsa pasar yang besar akan memberikan
peluang kepada petani dan pengusaha olahan kedelai untuk meningkatkan produksi
dan memperluas jangkauan pasar. Perluasan jangkauan pasar dapat dilakukan
dengan berbagai terobosan diantaranya melalui peningkatan peranan teknologi
informasi untuk kepastian stok komoditas kedelai dan hasil olahan kedelai dalam
bentuk e-agribusiness.
Peranan teknologi informasi dalam sistem perdagangan produk
kedelai cukup besar dalam mempercepat proses transaksi antara produsen dan
konsumen. Penyediaan
infrastruktur teknologi informasi di Indonesia untuk sistem
transaksi berbasiskan elektronik (electronic transaction) cukup memadai
meskipun diperlukan perluasan terutama di wilayah sentra produksi kedelai.
Sampai saat ini, pengembangan pasar komoditas kedelai di Indonesia kurang
optimal memanfaatkan peranan teknologi informasi terutama dalam menjawab
tantangan pasar global dan persaingan produk dengan negara lain.
Tujuan dari penelitian ini adalah desain perencanaan sistem
penunjang keputusan berbasis e-agribusiness pada komoditas kedelai, sedangkan
uraian tujuan secara spesifik adalah: (1) Menganalisis sistem pemasaran
komoditas kedelai melalui indentifikasi target pengguna dan kebutuhan informasi
produk agribisnis unggulan. (2) Mendesain Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
pemasaran komoditas kedelai dan (3) Mendesain prototipe e-agribusiness yang
berasal dari tujuan pertama dan kedua dalam bentuk rancangan logika ke dalam
bentuk rancangan fisik berupa software yang dilengkapi dengan manajemen RBAC.
LANDASAN TEORI
Saragih (2004) menyatakan sistem agribisnis merupakan
totalitas atau kesatuan kinerja agribisnis yang terdiri dari subsistem
agribisnis hulu yang berupa kegiatan input produksi, informasi dan teknologi
seperti tampak pada Gambar 1.
Gambar 1. Lingkup Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis.
Membangun sistem dan usaha yang berdaya saing dipengaruhi
oleh dua faktor strategis yakni permintaan dan penawaran. Daya saing dicirikan
oleh tingkat efisiensi, mutu, harga dan biaya produksi, kemampuan untuk
menerobos pasar, meningkatkan pangsa
pasar dan memberikan pelayanan yang professional.
Menurut Kothler (1994) pemasaran pada hakekatnya adalah
suatu aktivitas usaha niaga yang bersangkutan dengan penyaluran barang¬barang
dan jasa dari titik-titik produksi hingga ke titik-titik konsumsi.
O’Brein (2004) menjelaskan bahwa peran sistem informasi
dalam suatu organisasi berkembang sesuai dengan kebutuhan pengguna akhir (end
user). Sistem informasi terdiri dua sistem yaitu sistem informasi pendukung
operasi bisnis dan sistem informasi pendukung keputusan manajerial. Sistem
informasi pendukung keputusan menajerial terdiri dari sistem manajemen, sistem
pendukung keputusan dan sistem informasi eksekutif.
Menurut Schunter dan Waidner (2002), Sistem pengolah
transaksi adalah sistem yang menyimpan dan mengolah data hasil transaksi bisnis
seperti sistem yang mengolah data penjualan, pembelian dan perubahan
persediaan. Sistem pengendali proses adalah sistem pendukung keputusan yang
bersifat rutin untuk mengontrol suatu proses seperti keputusan pemesanan kembali
secara otomatis dan keputusan pengendalian produksi.
Hooker et al. (2001) memberikan terminologi e-agribusiness
sebagai suatu bisnis elektronik (e-business) yang memfokuskan pada produk dan
layanan bidang pertanian atau kegiatan agribisnis yang dilakukan secara
eletronik melalui media internet. Ilustrasi mengenai e-agribusiness tampak pada
Gambar 2.
Gambar 2. Konsep Dasar E-Agribusiness.
Lebih lanjut Ferraiolo (2001),
menyatakan bahwa model-model e-agribusiness yang banyak
digunakan di negara-negara maju dan berkembang antara lain: 1) katalog on-line
(online catalogs); 2) lelang (auctions); 3) bursa (exchange) dan; 4) komunitas
online (on line communities).
Menurut Thompson et al. (2000) e-agribusiness telah banyak
digunakan di negara-negera maju dan berkembang dengan menggunakan model dan
sistem yang mengacu pada sistem bisnis elektronik (e-business) dan perdagangan
elektronik (e-commerce).
Sistem distribusi dan pemasaran komoditas pertanian di
Indonesia dikelompokkan menjadi dua, yaitu sistem distribusi untuk komoditas
kelas satu (first grade) dan sistem distribusi untuk komoditas kelas dua
(second grade). Komoditas kelas satu adalah komoditas dengan mutu terbaik yang
umumnya dilakukan penanganan pascapanen terlebih dahulu sebelum siap dipasarkan
(Departemen Pertanian, 2004). Menurut Darmawati (2004) kendala yang dihadapi
oleh petani dalam memasarkan produknya secara langsung ke pasar institusi
antara lain: 1) informasi tentang persyaratan mutu, harga penawaran dan volume
permintaan tidak mudah diperoleh oleh petani produsen; 2) sistem pembayaran
yang dilakukan oleh pasar institusi pada umumnya menggunakan pembayaran mundur
antara 7 sampai 15 hari.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Propinsi Jawa Barat dan
DKI Jakarta dengan pengambilan data lapang dan interview.
Data dan Alat Penelitian
Data penelitian akan diperoleh melalui beberapa metode
yaitu: (a) data primer dengan langsung mewawancarai kepada para produsen,
konsumen, lembaga pemasaran; dan (b) data sekunder berupa studi pustaka/jurnal
ilmiah dan data statistik pertanian.
Alat yang digunakan untuk perancangan e-agribusiness dan
sistem pendukung
keputusan terdiri dari perangkat keras (hardware) dan
perangkat lunak (software). Pembangunan program akan menggunakan Java Script
dan HTML (HiperText Markup Language) dan Dreaweaver. Pembangunan data
menggunakan Microsoft Access, sedangkan untuk komunikasi data dalam jaringan
menggunakan ASP (Active Server Page) dan XML Document Access Control.
Kerangka Penelitian
Alur kerangka penelitian sebagaimana pada Gambar 3.
Gambar 3. Bagan Alir Kerangka Kerja Penelitian Disain
E-Agribusiness kedelai
HASIL DAN PEMBAHASAN Pendekatan Masalah
5
Desain e-agribusiness dilakukan melalui pendekatan bottom-up
yakni rancangan akan dimulai dari obyek-obyek yang ada di dalam sistem. Obyek
sistem yang kali pertama harus ditetapkan adalah target pengguna sistem,
kemudian dilanjutkan dengan analisa kebutuhan informasi dan bentuk/jenis
keputusan yang akan diambil oleh pengguna.
Setelah target pengguna sistem ditetapkan, maka harus
dilakukan identifikasi kebutuhan jenis informasi yang didasarkan pada
pendekatan kebutuhan masing-masing target pengguna untuk merancang Sistem
Pengambilan Keputusan (SPK)
Tabel 1. Hasil idenrtifikasi Target Pengguna Sistem dan
Analisis Kebutuhan Informasi Produsen dan Konsumen
Target Pengguna Kebutuhan
Informasi Jenis-jenis Informasi
Tabel 2. Hasil idenrtifikasi Target Pengguna Sistem dan
Analisis Kebutuhan Informasi Lembaga Pemasaran
Pemborong Database
produsen & produk - Harga penawaran
- Volume
dan mutu produk
- Lokasi
produsen
Pedagang pengumpul Database
pemborong dan produk - Harga penawaran
- Volume
dan mutu produk
- Lokasi
pemborong
Pusat pengumpul Database
pedagang pengumpul dan produk - Harga penawaran
- Volume
dan mutu produk
- Lokasi
pedagang pengumpul
Pedagang pusat grosir Database
pusat pengumpul - Harga penawaran
- Volume
dan mutu produk
- Lokasi
pusat pengumpul
Pusat distribusi Database
pusat grosir - Harga penawaran
- Volume
dan mutu produk
- Lokasi
pusat grosir
Tabel 3. Hasil idenrtifikasi Target Pengguna Sistem dan
Analisis Kebutuhan Informasi Pemasaran
Tabel 4. Hasil idenrtifikasi Target Pengguna Sistem dan
Analisis Kebutuhan Informasi Lembaga Penunjang
Perbankan Database
produsen - Skala usaha (besar, menengah, kecil)
- Karakteristik
produsen
- Volume
& mutu produksi
Database
konsumen - Jaminan perbankan
- Karakteristik
konsumen
Asuransi Database
produsen dan konsumen - Kategori transaksi
- Resiko
usaha
- Kontinuitas
- Jaminan
perbankan
- Legal
transaction
Pusat Informasi Database
saluran pemasaran Semua informasi
yang dibutuhkan oleh target pengguna (data warehouse)
Pemerintah Database
target pengguna Database jenis
informasi target pengguna (data warehouse)
Model Optimasi Pemasaran Produk Kedelai
Menurut Ernst dan Ehmke (2003), model optimasi pemasaran
untuk menentukan distribusi yang optimum meliputi: a) biaya pemasaran; b) biaya
volume yang didistribusikan ke lokasi tujuan; c) biaya pengolahan dan
pengemasan agar produk memenuhi kreteria sesuai dengan permintaan; d)
keuntungan yang diperoleh dan; e) biaya promosi dan iklan.
Perancangan SPK
Menurut Ninghui (2004), Perancangan SPK sistem
e-agribusiness dilakukan dengan model GUIDS (Goal-centered design,
User-interface design, Implementation-centered design, Data Design, Strategic
for contruction). Proses rancangan aplikasi SPK untuk e-agribusiness akan
dilakukan melalui tujuh langkah seperti tampak pada Gambar 4.
Langkah 5
Menguji & mengevaluasi model
Langkah 6 Menggunakan
model e-agribusiness
Langkah 7 Memelihara
sistem e-agribusiness
Gambar 4. Bagan Alir Perancangan Aplikasi SPK untuk
E-Agribusiness
Pembangunan Prototipe E-Agribusiness
Prototipe e-agribusiness dibangun dengan sistem sekuriti
berbasiskan manajemen RBAC untuk menghasilkan sistem pengambilan kuputusan yang
memiliki tingkat keamanan sistem yang baik. Rancangan e-agribusiness untuk
keunggulan dilakukan melalui tahapan berikut ini:
1. Pembuatan web site dengan Shopping Cart, tujuan tahapan
ini untuk mewujudkan aplikasi dengan menggunakan bahasa scripting PHP3 dan
server database MySQL dan konektifitas ke server database MySQL. Menurut Rowley
(2003), rancangan e-agribusiness di bagi menjadi beberapa subsistem yaitu: 1)
subsistem catalog online; 2) sub sistem shopping basket (pemesanan); c)
subsistem check-out (pembayaran) dan; 4) subsistem maintenance.
2. Implementasi Shopping Cart yang akan diujicobakan dengan
membangun website untuk melihat respon terhadap sistem yang telah dirancang
(Qingfeng, 2003). Dalam rancangan e-agribusiness nantinya akan dibuat umpan
balik respon pengguna yang terdiri dari kotak permintaan (request box) dan
kontak saran. Uji coba e-agribusiness akan berlangsung selama satu bulan sejak
rancangan selesai.
Barkley dan Cincotta (2002) menganjurkan aplikasi access
control menggunakan konsep Role Based Access Control (RBAC). RBAC dapat
menggambarkan struktur suatu organisasi, hal ini dapat dilakukan dengan membuat
suatu fungsi yang dikelompokkan kedalam role dan user. Meskipun bukan konsep
yang baru, tetapi RBAC terus mendapat pengakuan dari dunia komersial seperti
perbankan. RBAC bertujuan untuk menyederhanakan definisi, auditing dan
administrasi dari keamanan hak akses dari setiap pengguna informasi di
internet. Ilustrasi mengenai konsep RBAC dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Konsep Role Base Access Control (RBAC)
DAFTAR PUSTAKA
Nanseki T. 2003. Development and Applications of Nationwide
Marketing Information Database for Vegetabless and Fruit in Japan. Proceeding
of the First Asian Conference for Information Technology in Agriculture,
January 24-26, 2003. Wakayaman, Japan.
Hoa T. 2004. Database for Agriculture in Information Center
for Agriculture and Rural Development. Proceeding of the First Asian Conference
for Information Technology in Agriculture, January 24-26, 2004. Wakayaman,
Japan.
Eriyatno. 2005. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan
Efektivitas Manajemen. IPB Press, Bogor. Saragih B. 2004. Pembangunan Sistem
Agribisnis Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional (Deptan).
http://www.deptan.go.id/konsep/konsep.htm [21 Sep 2004].
Kothler P. 1994. Manajemen Pemasaran, Perencanaan dan
Pengendalian. Penerbit Erlangga. Jakarta. O'Brein. 2004. Management Information
Systems: Managing Information Technology in the Business Enterprise, 6th
Edition, McGraw-Hill.
Schunter M, Waidner M. 2002. The Platform For Enterprise
Privacy: Practices-Privacy-Enabled Management of Customer Data. Proc. of the
2002 Workshop on PrivacyEnhancing Technologies, San Francisco, CA.
Hooker NH, Heilig J, Ernst S. 2001. What is Unique About
E-Agribusiness?. Department of Agricultural, Environmental, and Development
Economics The Ohio State University, Columbus, USA.
Ferraiolo D, Barkley J. 2001. Specifying and Managing
Role-Based Access Control within a Corporate Intranet, National Institute of
Standards and Technology.
Thompson S, Hayenga M, Hayes D. 2000. E-agribusiness.
Department of Economics, Iowa State University Ames, Iowa, USA.
[Deptan] Departemen Pertanian. 2004. Rencana Pembangunan
Pertanian Tahun 2005. Jakarta.
Darmawati E. 2004. Desain Sistem Pendukung Keputusan
Distribusi Hortikultura dengan Pendekatan Objek [Disertasi]. Bogor: Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Ernst S, Ehmke C. 2003. E-Commerce in Agribusiness Research
Project. The Ohio State University. Ninghui L, Tripunitara MV. 2004. Security
Analysis in Role-Based Access. Center for Education and
Research in Information Assurance and Security and
Department of Computer Sciences Purdue
University, Oval Drive, West Lafayette.
Rowley J. 2003. Remodelling Marketing Communications in an
Internet Environment. Electronic Networking Applications and Policy, Volume 11,
Number 3, pp 203-212.
Qingfeng. 2003. Privacy Enforcement with an Extended
Role-Based Access Control Model. Department of Computer Science North Carolina
State University Raleigh, NC 27695-8207, USA
Barkley J, Cincotta A. 2002. Role Based Access Control for
the World Wide Web, National Institute of Standards and Technology Gaithersburg
Maryland.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar