SISTEM PEROLEHAN CITRA BERBASIS ISI MENGGUNAKAN GRAY LEVEL
DIFFERENCE METHOD BERDASARKAN CIRI TEKSTUR PADA POLA BATIK
Nansy Lovitasari*, Fitri Damayanti**
*Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik
**Program Studi Manajemen Informatika, Fakultas Teknik
Universitas Trunojoyo
E-mail : *echi_dunkz@yahoo.com, **fitri2708@yahoo.com
Abstrak
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan
telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama. Batik di Indonesia
mempunyai beragam jenis tekstur batik, warna batik, dan pola batik yang
mencerminkan asal usul daerah dari batik tersebut. Saat ini pencarian citra
berbasis teks sudah tidak efektif lagi karena adanya penilaian subjektif dari
pengguna dalam merepresentasikan suatu citra. Karena itu diperlukan suatu
sistem yang dapat menangani pencarian citra menggunakan query berupa citra atau
disebut Sistem Perolehan Citra berbasis Isi (SPCI) atau Content Based Image
Retrieval (CBIR). Penelitian ini menggunakan ciri tekstur sebagai proses
pencarian kemiripan dari delapan kelas citra batik yang berbeda yaitu: Cirebon,
Bali, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan sebagai
objek perolehan citra berbasis isi. Sistem dibangun dengan proses utamanya
yaitu ekstraksi fitur tekstur dengan menggunakan metode Gray Level Difference
Method (GLDM) menggunakan empat arah utama. GLDM menghitung perbedaan mutlak
antara sepasang derajat keabuan yang terpisah oleh jarak dan arah tertentu.
Hasil ekstraksi fitur dilakukan pengukuran jarak kemiripan menggunakan metode
Euclidean Distance. Dari uji coba aplikasi menggunakan pengukuran kemiripan
Euclidean Distance dengan nilai threshold=7 diperoleh akurasi presisi sebesar
61% pada data pelatihan 168 dan data uji coba 32 dengan 10 citra yang
ditampilkan.
Kata Kunci : Tekstur, Sistem Perolehan Citra berbasis Isi,
Gray Level Difference Method, Euclidean Distance.
Abstract
Batik is a craft that has high artistic value and has become
part of the culture of Indonesia for a long time. Batik in Indonesia has a wide
range of batik texture, color batik and batik patterns. Current text-based
image search is no longer effective because of the subjective assessment of the
user in representing an image. What is needed a system that can handle image
search using the query form or image of the so-called Content-based Image
Acquisition System or Content Based Image Retrieval. This study using texture
features as similarity search process of batik images of eight different
classes, namely: Cirebon, Bali, Jakarta, Pamekasan, Sumenep, Yogyakarta, Solo,
and Pekalongan as content-based image acquisition objects. The system is built
with the main process is the extraction of texture features using the Gray
Level Difference Method using the four cardinal directions. The results of
feature extraction will be measured using the method of Euclidean distance
similarity Distance. Of a pilot application using Euclidean Distance similarity
measurement threshold = 7 with the value obtained by 61% precision accuracy on
168 training data and trial data 32 by the number of displayed image 10.
Keywords: Texture, Content-based Image Acquisition System,
Gray Level Difference Method, Euclidean Distance.
CI - 32
PENDAHULUAN
Sistem pencarian citra yang ada sekarang ini pada umumnya
menggunakan metode tradisional dalam menyimpan dan mengelola citra [1]. Metode
tradisional yang biasa digunakan dalam pencarian citra sudah tidak mungkin lagi
digunakan, misalnya pencarian citra dengan kata kunci (teks) karena nama dari
sebuah file tidak dapat mempresentasikan isinya. Sebagai contoh bila ingin
mencari citra kuda, dimana citra kuda itu mempunyai banyak informasi antara
lain mungkin yang akan dihasilkan adalah makanan kuda, atau area pacuan kuda,
atau informasi lain yang ada unsur kuda dan yang pasti suatu citra itu bisa
berbicara seribu kata. Selain itu adanya persepsi manusia yang berbeda- beda
terhadap suatu citra dapat mengakibatkan hasil pencarian citra tidak sesuai
dengan yang diinginkan.
Untuk menghindari pencarian citra dengan kata kunci, maka
digunakan metode lain sebagai pengganti atau ditambahkan pada sistem kata kunci
yaitu sistem perolehan citra berbasis isi (SPCI) atau Content Based Image
Retrieval (CBIR) yang mencari citra hanya berdasarkan informasi yang ada pada
citra. Informasi dari citra yang didapatkan merupakan ciri dari citra, pada
level primitif dapat berupa warna, bentuk, tekstur [2].
CBIR merupakan teknologi pencarian citra dengan
membandingkan citra yang ada pada contoh citra dengan yang ada pada basis data
citra (Query By Example). CBIR dilakukan dengan membandingkan nilai jarak citra
query dengan citra pada basis data (image distance measure). Pengukuran nilai
jarak citra dapat dikelompokkan dengan tiga kelas utama yaitu pertama kemiripan
warna, kedua kemiripan pada bentuk dan yang ketiga kemiripan pada tekstur [3].
Penelitian ini menentukan fitur tekstur batik dalam SPCI dengan
mendapatkan atribut-atribut dari metode statistical Gray Level Difference
Method (GLDM), yaitu Contrast, Angular Second Moment (ASM), Entropy, Inverse
Different Moment (IDM), Mean dan menghitung kemiripan antara citra query dengan
citra yang ada dalam basis data dengan menggunakan metode Euclidean Distance.
Data citra yang digunakan untuk objek penelitian adalah beberapa citra batik
dari delapan kelas, yaitu: Bangkalan,
Pamekasan, Sumenep, Yogyakarta,
Pekalongan, Solo, Cirebon, dan Bali. Citra query dan citra
basis data yang digunakan berupa citra statis sebanyak 200 citra dengan format
*bmp dan berukuran 200x200 pixel.
METODE
Gray Level Difference Method (GLDM)
Pada Gray Level Difference Method, peristiwa dari perbedaan
mutlak dihitung antara sepasang derajat keabuan yang terpisah oleh jarak
tertentu dengan arah tertentu. Maka akan dihasilkan sebuah kemungkinan dari
kumpulan variable distribusi. Misal I(m, n) sebagai fungsi intensitas gambar.
Untuk setiap pergeseran 6=(Am, An), I`(m, n)=| I(m, n)¬ I(m+ Am, n+ An)|, untuk
Am dan An bernilai integer. Misal g(•|6) sebagai estimasi ”probability density
function” dari I`(m, n), g(i|6)=#(I`(m, n)=i). Jika terdapat derajat keabuan m,
”probability density function” adalah vektor berdimensi m yang mana komponen
ke-i adalah probabilitas bahwa I`(m, n) akan memiliki nilai i. Pada citra
digital fungsi intensitas I(m, n) adalah fungsi diskrit, oleh karena itu g(•|6)
dihitung sebagai banyaknya nilai I`(m, n) yang terjadi. Jika pergeseran
menggunakan empat arah utama (Ө=0°,45°,90°,135°) dengan jarak 1 (δ=1) [4].
Terdapat beberapa ciri tekstural yang dapat diekstraksi
darai Gray Level Difference Method diantaranya adalah: Contrast, Angular Second
Moment, Entropy, Inverse Difference Moment, dan Mean [4].
a. Contrast
Contrast menunjukkan ukuran penyebaran (momen inersia)
elemen-elemen matriks citra. Contrast menentukan kecerahan pada citra. Semakin
besar nilai contrast maka akan terlihat tingkat kecerahannya.
CON = E[i2 x P′(g(ij6, 0))]
(1)
b. Angular
Second Moment (ASM)
Angular Second Moment menunjukkan ukuran sifat homogenitas
citra. Nilai ASM besar memiliki variasi bentuk yang homogen atau tidak
bervariasi.
AS M = E[P′(g(ij6,0)2)] .
(2)
c. Entropy
Entropy menyatakan ukuran
ketidakteraturan bentuk atau pola. Nilai entropy besar
memiliki tingkat keteracakan homogen (teratur) dan bernilai kecil jika struktur
citra tidak teratur
ENT =
− E[P′(g(i|, )) " 048 {U′(8(&|, ))}] ...(3)
d. Invers Difference Moment (IDM)
Invers Difference Moment menunjukkan kehomogenan citra yang
berderajat keabuan sejenis. Citra homogen akan memiliki nilai Inverse
Difference Moment (IDM) yang besar.
A = ∑[U′#8(&|, )%/ (&2 + 1)] .... (4)
e. Mean
Menunjukkan ukuran dispersi dan menentukan tekstur permukaan
dari suatu citra. Semakin besar nilai mean maka ukuran dispersi besar dan
menghasilkan permukaan tekstur kasar.
A$ = ∑[&
" U′(8(&|, ))] (5)
dengan :
I(m, n) = fungsi intensitas gambar CON = Contrast
ASM = Angular Second Moment ENT = Entropy
IDM = Invers Difference Moment MEAN = Mean
i = selisih antara sepasang derajat keabuan δ = jarak
pergeseran
P’ = probabilitas
Ө = arah pergeseran
g(iJδ,Ө) = estimasi probability density function
Euclidean Distance
Tahap terakhir dalam sistem temu kembali adalah pencarian
kemiripan antara citra query dengan fitur dari citra yang sudah disimpan pada
basis data. Dalam program aplikasi pencarian citra berdasarkan tekstur,
similarity measure yang digunakan adalah Euclidean Distance. Pencarian dari
suatu sistem pencarian citra secara signifikan. Euclidean Distance merupakan
teknik yang paling sederhana untuk menghitung jarak di antara dua vektor.
Misalkan diberikan dua buah feature vector p dan q, maka jarak di antara dua
feature vector p dan q ditentukan sebagai berikut [1].
P = ( p1, p2, ...., pn)
Q = (q1, q2, ..., qn)
6 = (2~ −
~~~~ + (2 −
~~~~ + ⋯ + (2n − ~n)2
= ∑~ (2& − ~&~~ (6)
&+~
dengan
d = ukuran jarak antara query citra P dan citra Q yang ada
di dalam database.
p = feature vector pada image P
q = feature vector pada image Q
Desain Sistem
Dalam penelitian ini dibangun sistem perolehan citra
berbasis isi dengan ekstraksi fitur tekstur menggunakan metode Gray Level
Difference Method dengan proses pencocokan menggunakan metode Euclidean
Distance. Sistem ini menggunakan model QBE (Query By Example) yaitu pengguna
memberi masukan berupa citra kemudian sistem akan mencari citra- citra lain
yang mirip dengan citra query. Proses pertama untuk mendapatkan feature vector
suatu citra adalah konfersi citra true color ke grayscale, setelah itu
dilakukan proses pengambilan nilai pixel dilanjutkan dengan proses kuantisasi
pada citra grayscale. Dari hasil proses kuantisasi dilakukan proses ekstraksi
fitur tekstur dengan menghitung empat arah GLDM (00, 450, 900 dan 1350) dan
lima fitur GLDM (Contrast, Angular Second Moment (ASM), Entropy, Inverse
Difference Moment (IDM), dan Mean). Bobot arah dan fitur inilah yang disebut
hasil dari proses ekstraksi fitur. Proses-proses diatas dilakukan baik pada
citra query maupun pada proses pembuatan Feature Vector citra basis data.
Kemudian dilakukan proses pencocokan (matching) antara citra query dengan
Feature vector citra basis data menggunakan metode pencarian nilai jarak yaitu
Euclidean Distance. Proses ini bertujuan untuk mencari citra yang mempunyai
fitur yang mirip dengan citra query. Sebagai hasil dari sistem maka pada dialog
aplikasi menampilkan 10, 20 dan 30 citra terurut mulai dari yang paling mirip
sampai yang tidak mirip. Blok diagram dari sistem dapat dilihat pada Gambar 1.
Garis besar sistem dibagi menjadi dua yakni proses pembuatan
Feature Vector citra basis data dan proses pencocokan / pencarian citra. Hasil
akhir dari dari pencarian citra tersebut adalah menampilkan 10, 20 dan 30 citra
yang memiliki tingkat kecocokan paling tinggi yang terdapat dalam basis data.
Berikut perincian proses pembuatan Feature Vector citra basis data:
a. Citra
masukan berupa citra statis dengan format .bmp
b. Citra
masukan diubah dari warna RGB ke grayscale
.Gambar 1. Desain sistem CBIR secara umum
c. Pengambilan
nilai piksel grayscale kemudian dilakukan proses kuantisasi untuk
menyederhanakan nilai piksel citra.
d. Kemudian
dilakukan proses ekstraksi fitur tekstur dengan menggunakan Gray Level
Difference Method
e. Hasil
ekstraksi fitur tekstur disimpan dalam basis data berbasis file di dalam folder
CBIR.
Untuk proses pencocokan atau pencarian citra dilakukan
proses sebagai berikut :
a. Citra
masukan berupa citra statis dengan format *bmp.
b. Citra
masukan diubah dari warna RGB ke grayscale
c. Pengambilan
nilai piksel grayscale kemudian dilakukan proses kuantisasi untuk
menyederhanakan nilai piksel citra.
d. Kemudian
dilakukan proses ekstraksi fitur tekstur dengan menggunakan Gray Level
Difference Method.
e. Hasil
ekstraksi fitur tekstur masukan citra kemudian dilakukan pencocokan dengan
fitur tekstur yang terdapat dalam basis data dengan menggunakan Euclidean
Distance
f. Menampilkan
citra yang mirip dengan citra masukan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada uji coba sistem ini data yang digunakan pada citra
query dan proses pembuatan Feture Vector pada basis data berupa citra dengan
format *bmp sebanyak 200 citra yang terdiri dari 8 kelas citra yaitu:
Bangkalan, Pamekasan, Sumenep,
Yogyakarta, Pekalongan, Solo, Cirebon, dan Bali.
Skenario uji coba merupakan perlakuan yang dilakukan untuk
melakukan uji coba citra
query terhadap citra basis
data untuk
mengetahui tingkat pengenalan citra query. Skenario uji coba
yang dilakukan seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Skenario Uji Coba
Jumlah Skenario citra yang Uji Coba ditampilkan
10 Citra 1
120
(15 x 8) 8) 80
(10 x
Sebagai contoh, Gambar 2 merupakan uji coba pada skenario 5
dengan data pelatihan 184 (23 x 8) dan data uji coba 16 (2 x 8) dengan citra
query merupakan bagian dari delapan kelas citra yang tersedia di basis data.
Citra query:
Gambar 2 Pekalongan_25.bmp
Pada Gambar 3 menampilkan 10 citra dalam basis data yang
mirip dengan citra query Pekalongan_25.bmp pada skenario 4, sehingga hasil yang
diperoleh dari nilai Recall 0,11 dan Precision 0,5.
Gambar 3 Percobaan citra query Pekalongan_25.bmp
Pada Gambar 4 menampilkan 20 citra dalam basis data yang
mirip dengan citra query Cirebon_23.bmp pada skenario 9, sehingga hasil yang
diperoleh dari nilai Recall 0,14 dan Precision 0,7.
Gambar 4 Percobaan citra query Cirebon_23.bmp
Setelah dilakukan uji coba terhadap sistem perolehan citra
berbasis isi, Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4 merupakan hasil rata- rata nilai
recall dan precision berdasarkan tekstur dengan ukuran citra 200x200 piksel dan
jumlah citra yang ditampilkan 10, 20, 30 dengan nilai threshold=7. Tabel 5
merupakan hasil rata-rata tingkat pengenalan dengan nilai threshold = 5 dan
threshold =7 pada skenario 15.
CI - 36
Pada Tabel 2 menunjukkan hasil rata-rata nilai recall dan
precision dengan nilai threshold=7 dengan 10 citra yang ditampilkan.
Tabel 2 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan jumlah
citra yang ditampilkan 10
Pada Tabel 3 menunjukkan hasil rata-rata nilai recall dan
precision dengan nilai threshold=7 dengan 20 citra yang ditampilkan.
Tabel 3 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan jumlah
citra yang ditampilkan 20
Pada Tabel 4 menunjukkan hasil rata-rata nilai recall dan
precision dengan nilai threshold=7 dengan 30 citra yang ditampilkan.
Tabel 4 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan jumlah
citra yang ditampilkan 30
Tabel 5 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan nilai
threshold = 5 dan threshold = 7
Pada Tabel 5 merupakan tingkat pengenalan dan hasil analisis
dengan nilai threshold = 5 pada skenario 15 dengan jumlah data pelatihan 184
citra (23x8), data uji coba 16 citra (2x8) dan jumlah citra yang ditampilkan 30
memiliki nilai recall 0,16 dan nilai precision 0,53. Sedangkan tingkat
pengenalan dan hasil analisis dengan nilai threshold =7 memiliki nilai recall
0,17 dan nilai precision 0,54. Pada proses perhitungan kemiripan antara citra
query dan citra basis data digunakan nilai threshold =7 karena memiliki tingkat
kecerahan yang lebih besar dan tingkat keteraturan yang tinggi pada citra
Pekalongan_25. Sehingga tingkat pengenalan citra lebih baik dengan menggunakan
nilai threshold= 7.
SIMPULAN
Pada sistem pengenalan citra berdasarkan tekstur berbasis
Gray Level Difference Method didapatkan beberapa ciri tekstur yaitu Contrast,
Angular Second Moment (ASM), Entropy, Inverse Different Moment (IDM), dan Mean.
Pengukuran nilai kemiripan Euclidean Distance dengan nilai threshold = 7 dapat
digunakan untuk mengenali citra dengan nilai precision terbaik sebesar 61%.
Tingkat pengenalan dengan nilai threshold = 5
memiliki nilai precision lebih kecil. Jumlah citra yang
ditampilkan sangat berpengaruh saat proses pengenalan citra terhadap
precisionnya. Semakin banyak jumlah citra yang ditampilkan maka nilai precision
semakin kecil dan nilai recall semakin besar. Jumlah data pelatihan terbaik
pada jumlah data pelatihan 168 citra dan jumlah data uji coba 32 citra dengan10
jumlah citra yang ditampilkan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Isa, S. M.
Aplikasi Image Retrieval
Berdasarkan Tekstur dengan
Menggunakan Transformasi Haar Wavelet. Seminar Nasional
Sistem dan Informatika. SNSI : 06-039. 221-226. 2007.
[2] Bagus, B.
Image Database Menggunakan Sistem Content Based Image Retrieval dengan
Ekstraksi Fitur Terstruktur. Tugas Akhir. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
Nopember. 2007.
[3] Ramadijanti,
N. Content Based Image Retrieval Berdasarkan Ciri Tekstur Menggunakan Wavelet.
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi. ISSN: 1907-5022. 49-54. 2006.
[4] Zahab, N.
M. Analisis Tekstur Parket Kayu dengan Menggunakan Metode Statistikal Gray
Level Difference Method. Tugas Akhir. Depok : Universitas Gunadarma. 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar