Sabtu, 19 Juli 2014



SISTEM PEROLEHAN CITRA BERBASIS ISI MENGGUNAKAN GRAY LEVEL DIFFERENCE METHOD BERDASARKAN CIRI TEKSTUR PADA POLA BATIK
Nansy Lovitasari*, Fitri Damayanti**
*Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik
**Program Studi Manajemen Informatika, Fakultas Teknik
Universitas Trunojoyo
E-mail : *echi_dunkz@yahoo.com, **fitri2708@yahoo.com
Abstrak
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama. Batik di Indonesia mempunyai beragam jenis tekstur batik, warna batik, dan pola batik yang mencerminkan asal usul daerah dari batik tersebut. Saat ini pencarian citra berbasis teks sudah tidak efektif lagi karena adanya penilaian subjektif dari pengguna dalam merepresentasikan suatu citra. Karena itu diperlukan suatu sistem yang dapat menangani pencarian citra menggunakan query berupa citra atau disebut Sistem Perolehan Citra berbasis Isi (SPCI) atau Content Based Image Retrieval (CBIR). Penelitian ini menggunakan ciri tekstur sebagai proses pencarian kemiripan dari delapan kelas citra batik yang berbeda yaitu: Cirebon, Bali, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan sebagai objek perolehan citra berbasis isi. Sistem dibangun dengan proses utamanya yaitu ekstraksi fitur tekstur dengan menggunakan metode Gray Level Difference Method (GLDM) menggunakan empat arah utama. GLDM menghitung perbedaan mutlak antara sepasang derajat keabuan yang terpisah oleh jarak dan arah tertentu. Hasil ekstraksi fitur dilakukan pengukuran jarak kemiripan menggunakan metode Euclidean Distance. Dari uji coba aplikasi menggunakan pengukuran kemiripan Euclidean Distance dengan nilai threshold=7 diperoleh akurasi presisi sebesar 61% pada data pelatihan 168 dan data uji coba 32 dengan 10 citra yang ditampilkan.
Kata Kunci : Tekstur, Sistem Perolehan Citra berbasis Isi, Gray Level Difference Method, Euclidean Distance.
Abstract
Batik is a craft that has high artistic value and has become part of the culture of Indonesia for a long time. Batik in Indonesia has a wide range of batik texture, color batik and batik patterns. Current text-based image search is no longer effective because of the subjective assessment of the user in representing an image. What is needed a system that can handle image search using the query form or image of the so-called Content-based Image Acquisition System or Content Based Image Retrieval. This study using texture features as similarity search process of batik images of eight different classes, namely: Cirebon, Bali, Jakarta, Pamekasan, Sumenep, Yogyakarta, Solo, and Pekalongan as content-based image acquisition objects. The system is built with the main process is the extraction of texture features using the Gray Level Difference Method using the four cardinal directions. The results of feature extraction will be measured using the method of Euclidean distance similarity Distance. Of a pilot application using Euclidean Distance similarity measurement threshold = 7 with the value obtained by 61% precision accuracy on 168 training data and trial data 32 by the number of displayed image 10.
Keywords: Texture, Content-based Image Acquisition System, Gray Level Difference Method, Euclidean Distance.

CI - 32


PENDAHULUAN
Sistem pencarian citra yang ada sekarang ini pada umumnya menggunakan metode tradisional dalam menyimpan dan mengelola citra [1]. Metode tradisional yang biasa digunakan dalam pencarian citra sudah tidak mungkin lagi digunakan, misalnya pencarian citra dengan kata kunci (teks) karena nama dari sebuah file tidak dapat mempresentasikan isinya. Sebagai contoh bila ingin mencari citra kuda, dimana citra kuda itu mempunyai banyak informasi antara lain mungkin yang akan dihasilkan adalah makanan kuda, atau area pacuan kuda, atau informasi lain yang ada unsur kuda dan yang pasti suatu citra itu bisa berbicara seribu kata. Selain itu adanya persepsi manusia yang berbeda- beda terhadap suatu citra dapat mengakibatkan hasil pencarian citra tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Untuk menghindari pencarian citra dengan kata kunci, maka digunakan metode lain sebagai pengganti atau ditambahkan pada sistem kata kunci yaitu sistem perolehan citra berbasis isi (SPCI) atau Content Based Image Retrieval (CBIR) yang mencari citra hanya berdasarkan informasi yang ada pada citra. Informasi dari citra yang didapatkan merupakan ciri dari citra, pada level primitif dapat berupa warna, bentuk, tekstur [2].
CBIR merupakan teknologi pencarian citra dengan membandingkan citra yang ada pada contoh citra dengan yang ada pada basis data citra (Query By Example). CBIR dilakukan dengan membandingkan nilai jarak citra query dengan citra pada basis data (image distance measure). Pengukuran nilai jarak citra dapat dikelompokkan dengan tiga kelas utama yaitu pertama kemiripan warna, kedua kemiripan pada bentuk dan yang ketiga kemiripan pada tekstur [3].
Penelitian ini menentukan fitur tekstur batik dalam SPCI dengan mendapatkan atribut-atribut dari metode statistical Gray Level Difference Method (GLDM), yaitu Contrast, Angular Second Moment (ASM), Entropy, Inverse Different Moment (IDM), Mean dan menghitung kemiripan antara citra query dengan citra yang ada dalam basis data dengan menggunakan metode Euclidean Distance. Data citra yang digunakan untuk objek penelitian adalah beberapa citra batik dari delapan kelas, yaitu: Bangkalan,

Pamekasan,        Sumenep,            Yogyakarta,
Pekalongan, Solo, Cirebon, dan Bali. Citra query dan citra basis data yang digunakan berupa citra statis sebanyak 200 citra dengan format *bmp dan berukuran 200x200 pixel.
METODE
Gray Level Difference Method (GLDM)
Pada Gray Level Difference Method, peristiwa dari perbedaan mutlak dihitung antara sepasang derajat keabuan yang terpisah oleh jarak tertentu dengan arah tertentu. Maka akan dihasilkan sebuah kemungkinan dari kumpulan variable distribusi. Misal I(m, n) sebagai fungsi intensitas gambar. Untuk setiap pergeseran 6=(Am, An), I`(m, n)=| I(m, n)¬ I(m+ Am, n+ An)|, untuk Am dan An bernilai integer. Misal g(•|6) sebagai estimasi ”probability density function” dari I`(m, n), g(i|6)=#(I`(m, n)=i). Jika terdapat derajat keabuan m, ”probability density function” adalah vektor berdimensi m yang mana komponen ke-i adalah probabilitas bahwa I`(m, n) akan memiliki nilai i. Pada citra digital fungsi intensitas I(m, n) adalah fungsi diskrit, oleh karena itu g(•|6) dihitung sebagai banyaknya nilai I`(m, n) yang terjadi. Jika pergeseran menggunakan empat arah utama (Ө=0°,45°,90°,135°) dengan jarak 1 (δ=1) [4].
Terdapat beberapa ciri tekstural yang dapat diekstraksi darai Gray Level Difference Method diantaranya adalah: Contrast, Angular Second Moment, Entropy, Inverse Difference Moment, dan Mean [4].
a. Contrast
Contrast menunjukkan ukuran penyebaran (momen inersia) elemen-elemen matriks citra. Contrast menentukan kecerahan pada citra. Semakin besar nilai contrast maka akan terlihat tingkat kecerahannya.
CON = E[i2 x P′(g(ij6, 0))] (1)
b.            Angular Second Moment (ASM)
Angular Second Moment menunjukkan ukuran sifat homogenitas citra. Nilai ASM besar memiliki variasi bentuk yang homogen atau tidak bervariasi.
AS M = E[P′(g(ij6,0)2)]      . (2)
c.            Entropy
Entropy menyatakan        ukuran
ketidakteraturan bentuk atau pola. Nilai entropy besar memiliki tingkat keteracakan homogen (teratur) dan bernilai kecil jika struktur citra tidak teratur


ENT =
− E[P′(g(i|, )) " 048 {U(8(&|, ))}] ...(3)
d. Invers Difference Moment (IDM)
Invers Difference Moment menunjukkan kehomogenan citra yang berderajat keabuan sejenis. Citra homogen akan memiliki nilai Inverse Difference Moment (IDM) yang besar.
—‡ A = ∑[U′#8(&|, )%/ (&2 + 1)] .... (4)
e. Mean
Menunjukkan ukuran dispersi dan menentukan tekstur permukaan dari suatu citra. Semakin besar nilai mean maka ukuran dispersi besar dan menghasilkan permukaan tekstur kasar.
Aˆ”$ = [& " U(8(&|, ))]            (5)
dengan :
I(m, n) = fungsi intensitas gambar CON = Contrast
ASM = Angular Second Moment ENT = Entropy
IDM = Invers Difference Moment MEAN = Mean
i = selisih antara sepasang derajat keabuan δ = jarak pergeseran
P’ = probabilitas
Ө = arah pergeseran
g(iJδ,Ө) = estimasi probability density function
Euclidean Distance
Tahap terakhir dalam sistem temu kembali adalah pencarian kemiripan antara citra query dengan fitur dari citra yang sudah disimpan pada basis data. Dalam program aplikasi pencarian citra berdasarkan tekstur, similarity measure yang digunakan adalah Euclidean Distance. Pencarian dari suatu sistem pencarian citra secara signifikan. Euclidean Distance merupakan teknik yang paling sederhana untuk menghitung jarak di antara dua vektor. Misalkan diberikan dua buah feature vector p dan q, maka jarak di antara dua feature vector p dan q ditentukan sebagai berikut [1].
P = ( p1, p2, ...., pn)
Q = (q1, q2, ..., qn)
6 = ˜(2~ ~~~~  + (2 ~~~~ + + (2n ~n)2
= ˜∑~ (2& ~&~~             (6)
&+~
dengan
d = ukuran jarak antara query citra P dan citra Q yang ada di dalam database.
p = feature vector pada image P
q = feature vector pada image Q

Desain Sistem
Dalam penelitian ini dibangun sistem perolehan citra berbasis isi dengan ekstraksi fitur tekstur menggunakan metode Gray Level Difference Method dengan proses pencocokan menggunakan metode Euclidean Distance. Sistem ini menggunakan model QBE (Query By Example) yaitu pengguna memberi masukan berupa citra kemudian sistem akan mencari citra- citra lain yang mirip dengan citra query. Proses pertama untuk mendapatkan feature vector suatu citra adalah konfersi citra true color ke grayscale, setelah itu dilakukan proses pengambilan nilai pixel dilanjutkan dengan proses kuantisasi pada citra grayscale. Dari hasil proses kuantisasi dilakukan proses ekstraksi fitur tekstur dengan menghitung empat arah GLDM (00, 450, 900 dan 1350) dan lima fitur GLDM (Contrast, Angular Second Moment (ASM), Entropy, Inverse Difference Moment (IDM), dan Mean). Bobot arah dan fitur inilah yang disebut hasil dari proses ekstraksi fitur. Proses-proses diatas dilakukan baik pada citra query maupun pada proses pembuatan Feature Vector citra basis data. Kemudian dilakukan proses pencocokan (matching) antara citra query dengan Feature vector citra basis data menggunakan metode pencarian nilai jarak yaitu Euclidean Distance. Proses ini bertujuan untuk mencari citra yang mempunyai fitur yang mirip dengan citra query. Sebagai hasil dari sistem maka pada dialog aplikasi menampilkan 10, 20 dan 30 citra terurut mulai dari yang paling mirip sampai yang tidak mirip. Blok diagram dari sistem dapat dilihat pada Gambar 1.
Garis besar sistem dibagi menjadi dua yakni proses pembuatan Feature Vector citra basis data dan proses pencocokan / pencarian citra. Hasil akhir dari dari pencarian citra tersebut adalah menampilkan 10, 20 dan 30 citra yang memiliki tingkat kecocokan paling tinggi yang terdapat dalam basis data. Berikut perincian proses pembuatan Feature Vector citra basis data:
a.            Citra masukan berupa citra statis dengan format .bmp
b.            Citra masukan diubah dari warna RGB ke grayscale



.Gambar 1. Desain sistem CBIR secara umum
c.            Pengambilan nilai piksel grayscale kemudian dilakukan proses kuantisasi untuk menyederhanakan nilai piksel citra.
d.            Kemudian dilakukan proses ekstraksi fitur tekstur dengan menggunakan Gray Level Difference Method
e.            Hasil ekstraksi fitur tekstur disimpan dalam basis data berbasis file di dalam folder CBIR.
Untuk proses pencocokan atau pencarian citra dilakukan proses sebagai berikut :
a.            Citra masukan berupa citra statis dengan format *bmp.
b.            Citra masukan diubah dari warna RGB ke grayscale
c.            Pengambilan nilai piksel grayscale kemudian dilakukan proses kuantisasi untuk menyederhanakan nilai piksel citra.
d.            Kemudian dilakukan proses ekstraksi fitur tekstur dengan menggunakan Gray Level Difference Method.
e.            Hasil ekstraksi fitur tekstur masukan citra kemudian dilakukan pencocokan dengan fitur tekstur yang terdapat dalam basis data dengan menggunakan Euclidean Distance
f.            Menampilkan citra yang mirip dengan citra masukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada uji coba sistem ini data yang digunakan pada citra query dan proses pembuatan Feture Vector pada basis data berupa citra dengan format *bmp sebanyak 200 citra yang terdiri dari 8 kelas citra yaitu:
Bangkalan,          Pamekasan,        Sumenep,
Yogyakarta, Pekalongan, Solo, Cirebon, dan Bali.
Skenario uji coba merupakan perlakuan yang dilakukan untuk melakukan uji coba citra
query terhadap citra        basis data untuk
mengetahui tingkat pengenalan citra query. Skenario uji coba yang dilakukan seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Skenario Uji Coba
Jumlah Skenario citra yang Uji Coba ditampilkan
10 Citra 1
120
(15 x 8)  8)            80
(10 x
Sebagai contoh, Gambar 2 merupakan uji coba pada skenario 5 dengan data pelatihan 184 (23 x 8) dan data uji coba 16 (2 x 8) dengan citra query merupakan bagian dari delapan kelas citra yang tersedia di basis data.


Citra query:

Gambar 2 Pekalongan_25.bmp
Pada Gambar 3 menampilkan 10 citra dalam basis data yang mirip dengan citra query Pekalongan_25.bmp pada skenario 4, sehingga hasil yang diperoleh dari nilai Recall 0,11 dan Precision 0,5.

Gambar 3 Percobaan citra query Pekalongan_25.bmp
Pada Gambar 4 menampilkan 20 citra dalam basis data yang mirip dengan citra query Cirebon_23.bmp pada skenario 9, sehingga hasil yang diperoleh dari nilai Recall 0,14 dan Precision 0,7.

Gambar 4 Percobaan citra query Cirebon_23.bmp
Setelah dilakukan uji coba terhadap sistem perolehan citra berbasis isi, Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4 merupakan hasil rata- rata nilai recall dan precision berdasarkan tekstur dengan ukuran citra 200x200 piksel dan jumlah citra yang ditampilkan 10, 20, 30 dengan nilai threshold=7. Tabel 5 merupakan hasil rata-rata tingkat pengenalan dengan nilai threshold = 5 dan threshold =7 pada skenario 15.
CI - 36

Pada Tabel 2 menunjukkan hasil rata-rata nilai recall dan precision dengan nilai threshold=7 dengan 10 citra yang ditampilkan.
Tabel 2 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan jumlah citra yang ditampilkan 10

Pada Tabel 3 menunjukkan hasil rata-rata nilai recall dan precision dengan nilai threshold=7 dengan 20 citra yang ditampilkan.
Tabel 3 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan jumlah citra yang ditampilkan 20

Pada Tabel 4 menunjukkan hasil rata-rata nilai recall dan precision dengan nilai threshold=7 dengan 30 citra yang ditampilkan.
Tabel 4 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan jumlah citra yang ditampilkan 30

Tabel 5 Hasil rata-rata tingkat Pengenalan dengan nilai threshold = 5 dan threshold = 7



Pada Tabel 5 merupakan tingkat pengenalan dan hasil analisis dengan nilai threshold = 5 pada skenario 15 dengan jumlah data pelatihan 184 citra (23x8), data uji coba 16 citra (2x8) dan jumlah citra yang ditampilkan 30 memiliki nilai recall 0,16 dan nilai precision 0,53. Sedangkan tingkat pengenalan dan hasil analisis dengan nilai threshold =7 memiliki nilai recall 0,17 dan nilai precision 0,54. Pada proses perhitungan kemiripan antara citra query dan citra basis data digunakan nilai threshold =7 karena memiliki tingkat kecerahan yang lebih besar dan tingkat keteraturan yang tinggi pada citra Pekalongan_25. Sehingga tingkat pengenalan citra lebih baik dengan menggunakan nilai threshold= 7.
SIMPULAN
Pada sistem pengenalan citra berdasarkan tekstur berbasis Gray Level Difference Method didapatkan beberapa ciri tekstur yaitu Contrast, Angular Second Moment (ASM), Entropy, Inverse Different Moment (IDM), dan Mean. Pengukuran nilai kemiripan Euclidean Distance dengan nilai threshold = 7 dapat digunakan untuk mengenali citra dengan nilai precision terbaik sebesar 61%. Tingkat pengenalan dengan nilai threshold = 5

memiliki nilai precision lebih kecil. Jumlah citra yang ditampilkan sangat berpengaruh saat proses pengenalan citra terhadap precisionnya. Semakin banyak jumlah citra yang ditampilkan maka nilai precision semakin kecil dan nilai recall semakin besar. Jumlah data pelatihan terbaik pada jumlah data pelatihan 168 citra dan jumlah data uji coba 32 citra dengan10 jumlah citra yang ditampilkan.
DAFTAR PUSTAKA
[1]          Isa, S. M. Aplikasi Image Retrieval
Berdasarkan       Tekstur  dengan
Menggunakan Transformasi Haar Wavelet. Seminar Nasional Sistem dan Informatika. SNSI : 06-039. 221-226. 2007.
[2]          Bagus, B. Image Database Menggunakan Sistem Content Based Image Retrieval dengan Ekstraksi Fitur Terstruktur. Tugas Akhir. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 2007.
[3]          Ramadijanti, N. Content Based Image Retrieval Berdasarkan Ciri Tekstur Menggunakan Wavelet. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi. ISSN: 1907-5022. 49-54. 2006.
[4]          Zahab, N. M. Analisis Tekstur Parket Kayu dengan Menggunakan Metode Statistikal Gray Level Difference Method. Tugas Akhir. Depok : Universitas Gunadarma. 2009.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar