STUDI PERFORMANSI PENERAPAN MANAJEMEN AKSES JAMAK
TERPUSAT DAN TERDISTRIBUSI PADA JARINGAN KOMPUTER
Achmad Ubaidillah Ms.
Fakultas Teknik – Universitas Trunojoyo Madura
Email : ca achmed@yahoo.com
Abstrak
Universitas Trunojoyo Madura pernah menerapkan sistem
manajemen akses jamak (multiple access) terdistribusi pada jaringan
komputernya, tepatnya sampai tahun 2010. Namun akhirnya sistem manajemen akses
jamak tersebut diganti dengan sistem manajemen akses jamak terpusat. Permasalahannya
adalah, perubahan sistem manajemen akses jamak tersebut dilakukan tanpa
dilakukan kajian ilmiah terlebih dahulu. Penelitian ini akan mengkaji dan
membandingkan kinerja penerapan manajemen akses jamak terpusat dan manajemen
akses jamak terdistribusi pada jaringan komputer Universitas Trunojoyo Madura.
Tujuan dilakukan kajian seperti ini adalah untuk merekomendasikan sistem
manajemen akses jamak yang lebih baik kinerjanya jika diterapkan pada jaringan
komputer Universitas Trunojoyo Madura.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja sistem manajemen
akses jamak terpusat lebih baik dari pada sistem manajemen akses jamak
terdistribusi karena tidak kaku dan selalu dapat menyesuaikan diri dengan
kebutuhan bandwidth masing-masing grup.
Kata kunci : Manajemen akses Jamak, Terpusat, Terdistribusi
Abstract
Trunojoyo University of Madura has implemented distributed
system of multiple access management on it’s computer network until 2010. But,
this multiple access management system finally was changed to become
centralized system of multiple access management. The problem is, the change of
that multiple access management system, was not based on scientific
observation. This research observes and compares the performance between
centralized and distributed multiple access management system on computer
network of Trunojoyo University of Madura. The aim of this research is, to
recommend which one of multiple access management system is better tobe
implemented in computer network of Trunojoyo University of Madura.
The result of this research show that centralized multiple
access management system is better than distributed multiple access management
system, because it is not stiff and it is ajustable depend on the need of
bandwidth of each group.
Key words : centralized, distributed, multiple access
management
PENDAHULUAN
Dalam membangun jaringan komputer di perusahaan/ organisasi,
ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dalam hal-hal resource sharing,
reliabilitas tinggi, lebih ekonomis, skalabilitas, dan media komunikasi.
Resource sharing
bertujuan agar seluruh program, peralatan, khususnya data
dapat digunakan oleh setiap orang yang ada pada jaringan tanpa terpengaruh oleh
lokasi resource dan pemakai. Jadi source sharing adalah suatu usaha untuk
menghilangkan kendala jarak.
Dengan menggunakan jaringan komputer akan memberikan
reliabilitas tinggi yaitu adanya sumber-sumber
alternatif pengganti jika terjadi masalah pada salah satu
perangkat dalam jaringan, artinya karena perangkat yang digunakan lebih dari
satu jika salah satu perangkat mengalami masalah, maka perangkat yang lain
dapat menggantikannya.
Yang dimaksud dengan skalabilitas yaitu kemampuan untuk
meningkatkan kinerja sistem secara berangsur-angsur sesuai dengan beban
pekerjaan dengan hanya menambahkan sejumlah prosesor. Sebuah jaringan komputer
mampu bertindak sebagai media komunikasi yang baik bagi para pegawai yang
terpisah jauh. Dengan menggunakan jaringan, dua orang atau lebih yang tinggal
berjauhan akan lebih mudah bekerja sama dalam menyusun laporan. [5]
Universitas Trunojoyo Madura sebagai pengguna sistem
jaringan komputer, seharusnya melakukan kajian tentang sejauh mana kinerja
jaringan komputer yang telah diterapkan tersebut sehingga dapat melakukan
perencanaan instalasi jaringan komputer dengan baik untuk menjaga kualitas
jaringan komputer tersebut. Karena, tanpa kajian dan perencanaan jaringan yang
jelas, akan berakibat pada menurunnya kualitas layanan (misalnya koneksi sering
putus, lambat dsb.), dan ujung-ujungnya pasti dapat menurunkan kinerja sivitas
akademika di lingkungan Universitas Trunojoyo Madura sendiri, apalagi semakin
lama jumlah pengguna jaringan komputer .di lingkungan Universitas Trunjoyo
Madura semakin banyak berhubung jumlah program studi dan jumlah pengadaan
komputer juga semakin banyak, belum lagi pengguna fasilitas WLAN dengan media
laptop. [7]
Salah satu evaluasi performansi yang dapat dilakukan pada
jaringan komputer Universitas Trunojoyo Madura adalah kajian performansi
penerapan sistem manajemen akses jamak terpusat dan terdistribusi. Pada sistem
jaringan komputer Universitas Trunojoyo Madura, pernah diterapkan manajemen
akses jamak terdistribusi terutama sampai tahun 2010. Pada akhirnya, sistem
tersebut diubah menjadi manajemen akses jamak terpusat. Akan tetapi perubahan
tersebut tidak didasari pada kajian ilmiah. Pada penelitian ini akan dtinikaji
bagaimana
performansi jaringan komputer di lingkungan Universitas
Trunojoyo Madura dengan sistem manajemen akses jamak terpusat dan
terdistribusi.
Tujuannya adalah untuk
merekomendasikan sistem yang lebih baik kinerjanya untuk
diaplikasikan pada jaringan komputer Universitas Trunojoyo Madura.
TINJAUAN PUSTAKA
Pada [2] dituliskan definisi tentang kinerja, yaitu :
1. Standar
industri Jerman DIN55350: Kinerja terdiri dari semua karakteristik dan
aktivitas penting yang dibutuhkan dalam suatu produksi, yang meliputi perbedaan
kuantitatif dan kualitatif produksi atau aktivitas keseluruhan.
2. Standar
ANSI (ANSI/ASQC A3/1978) : Kinerja adalah gambaran dan karakteristik produksi keseluruhan
atau pelayanan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan.
3. Standar
IEEE untuk kinerja perangkat lunak (IEEE Std 729 - 1983) : Kinerja adalah
tingkatan untuk memenuhi kombinasi perangkat lunak yang diinginkan.
Menurut [2], indeks eksternal yang dapat dijadikan tolok
ukur kinerja suatu sistem jaringan antara lain turn around time, response time,
throughput, kapasitas, availability, dan realibility. Sedangkan menurut [3],
metrik ukuran kinerja jaringan yang biasa digunakan oleh para
peneliti antara lain delay, jitter,
throughput, goodput, utilisasi, dan
probabilitas blocking. Salah satu
contohnya adalah [1], yang menganalisa kinerja jaringan LAN
dengan
mengimplementasikan adaptive
transcoder dengan cara mengukur besar kecilnya throughput
dan kapasitas penggunaan bandwidth sebagai tolok ukur kinerja. Throughput
merupakan rate informasi yang diterima secara sukses oleh user/client/terminal
dengan satuan bit/sekon atau paket/sekon atau frame/sekon. Pada [7] dilakukan
studi pengukuran kinerja jaringan komputer di Universitas Trunojoyo Madura
dengan
pendekatan bit rate dan
utilisasi
bandwidth dalam setiap harinya sebagai
tolok ukur kinerjanya. Pada penelititan ini akan
dibandingkan kinerja antara manajemen akses jamak yang terpusat dan
terdistribusi pada jaringan komputer Universitas Trunojoyo Madura, yang untuk
kemudian akan menghasilkan rekomendasi tentang metode yang mana di antara kedua
metode tersebut yang lebih baik.
MANAJEMEN AKSES JAMAK
TERPUSAT DAN
TERDISTRIBUSI
Model referensi OSI (Open System Interconection) yang
dikembangkan oleh ISO (International Standards Organiza-tion) pada tahun 1974,
memberikan gambaran tentang terjadinya proses komunikasi antara dua terminal,
yaitu dengan cara membagi proses tersebut ke dalam 7 layer yang memiliki tujuan
dan tanggung jawab yang berbeda serta saling tidak tergantung satu dengan
lainnya. Masing-masing layer tersebut memiliki tugas dan fungsi yang
berbeda-beda namun juga menyediakan layanan kepada layer di atasya dan layer di
bawahnya. Layer-layer tersebut adalah :
1. Layer
Physical, yaitu layer yang bertugas untuk menyatakan informasi yang akan
dikirimkan agar dapat dilewatkan pada medium komunikasi, baik melalui kabel
tembaga, gelombang radio maupun melalui serat optik.
2. Layer
Data Link, yaitu layer yang bertugas untuk menyediakan protokol deteksi dan
koreksi sinyal error, dan protokol Medium Access Control (MAC).
3. Layer
Network, yaitu layer yang memiliki fungsi utama untuk merutekan paket-paket
informasi dari sumber ke tujuan
4. Layer
Transport, yaitu layer yang memiliki fungsi utama untuk menyediakan protokol
dalam hal flow control terhadap trafik jaringan
5. Layer
Session, yaitu layer yang bertugas untuk manajemen koneksi end to end yang
handal, termasuk juga mengatur kapan koneksi dibangun, dan kapan koneksi
diputus.
6. Layer
Presentation, yaitu layer yang memiliki fungsi utama untuk menyediakan aplikasi
filter data yang handal, terutama dalam fungsi kompresi dan enkripsi data untuk
melayani layer di atasnya.
7. Layer
Application, yaitu layer yang merupakan interface terhadap program aplikasi
pengguna. [6]
Dari 7 layer standar OSI di atas, layer yang berhubungan
dengan masalah multiple acces adalah data link layer, yaitu dengan protokol MAC
(Medium Access Control). Beberapa metode multiple access adalah sebagai
berikut:
1. Frequency
Division Multiple Access (FDMA), adalah metode akses jamak yang didasarkan pada
pembagian frekuensi. Satu kanal pada FDMA adalah satu sub bandwidth.
2. Time
Division Multiple Access (TDMA), adalah metode akses jamak yang didasarkan pada
pembagian waktu antrian pengiriman. Satu kanal pada TDMA adalah satu time slot.
3. Code
Division Multiple Access (CDMA), adalah metode akses jamak yang didasarkan pada
pembagian kode. Satu kanal pada CDMA adalah satu kode yang bersifat orthogonal
Satu dengan lainnya.
4. Orthogonal
Frequency Multiple Access (OFDMA), adalah metode akses jamak yang didasarkan
pada pembagian frekuensi dan waktu secara sekaligus sehingga menjadi carrier
kecil yang bersifat orthogonal. Satu kanal pada OFDMA adalah satu sub carrier
kecil yang bersifat orthogonal satu dengan lainnya. [8]
5. Carrier
Sensing Multiple Access (CSMA), adalah metode akses jamak yang didasarkan pada
pembagian pita frekuensi menjadi carrier yang berukuran kecil. Setiap terminal
yang berkepentingan untuk mengirimkan informasi harus mendengar dan mendeteksi
adanya carrier terlebih dahulu. Jika ada carrier yang idle, maka terminal
tersebut dapat mengirimkan informasinya melalui carrier tersebut.
Pada jaringan komputer, protokol MAC yang terkenal dan
paling banyak
diterapkan adalah CSMA. Dalam penerapannya, manajemen akses
jamak pada jaringan komputer, ada yang bersifat terpusat dan ada juga yang
terdistribusi. Yang dimaksud dengan manajemen akses jamak terpusat pada
jaringan komputer adalah cara pembagian bandwidth yang dalam hal ini adalah
penggunaan carrier, yang diatur secara terpusat. Semua carrier atau total
bandwidth dikelola secara terpusat dan terpadu oleh satu pengatur trafik, tanpa
membeda-bedakan pengguna.
Sedangkan manajemen akses jamak terdistribusi pada jaringan
komputer adalah cara pembagian bandwidth kepada pengguna secara tidak terpusat
oleh satu pengatur trafik, melainkan melalui sub-sub pengatur trafik pada
masing-masing grup atau kelompok. bandwidth total atau semua carrier dibagi dan
didistribusikan terlebih dahulu kepada sub pengatur yang menjadi induk di
masing-masing kelompok. Kemudian sub pengatur itulah yang membagi-bagikan
carrier kepada pengguna yang berada di dalam kelompoknya. Besar kecilnya
bandwidth pada masing-masing kelompok ditentukan terlebih dahulu oleh pengatur
pusat dan tergantung pada kebutuhan masing-masing kelompok tersebut.
METODE PENGUKURAN
Mengevaluasi kinerja jaringan adalah elemen kunci dalam
desain, operasi dan manajemen jaringan. Seperti misalnya menentukan berapa
banyak terminal yang dapat dihubungkan ke suatu mainframe computer system,
menentukan kebutuhan buffer dalam suatu switch, mengetahui bagaimana adaptive
windowing bekerja, mengukur delay backbone dan lain sebagainya.
Metriks adalah kriteria yang digunakan untuk evaluasi
performansi suatu sistem. Metriks pada umumnya berupa kuantitas statistik.
Beberapa metriks yang biasa digunakan untuk mengevaluasi kinerja suatu sistem
jaringan komunikasi adalah :
1. Delay
2. Jitter
(variasi delay)
3. Throughput
(jumlah request/paket yang melalui jaringan per unit waktu
4. Goodput
(sama dengan throughput, akan tetapi tanpa overhead)
5. Utilisasi
(fraksi dari waktu link komunikasi)
6. Blocking
probability (kemungkinan tidak mendapatkan layanan jaringan)
7. Dan
lain-lain
Pada dasarnya ada tiga metode untuk melakukan kajian
performansi suatu jaringan komunikasi, yaitu :
1. Pengukuran
langsung, mengumpulkan data eksperimental dari suatu prototype atau sistem
existing
2. Simulasi,
eksperimen dengan model komputer dari sistem
3. Analisa
murni, penggambaran model secara analitis dari sistem.
Metode pengukuran langsung memiliki kelebihan dan
kekurangan. Adapun beberapa kelebihan metode pengukuran langsung antara lain
adalah akurasi yang tinggi serta dapat mencakup permasalahan secara detail.
Sedangkan beberapa kekurangannya antara lain adalah harus memiliki peralatan
untuk pengukuran, kesulitan dalam mempertimbangkan semua parameter yang
memungkinkan, sulit dalam melakukan reproduksi, menghabiskan banyak waktu dan
lain sebagainya.
Metode simulasi juga memiliki kelebihan serta kekurangan.
Adapun beberapa kelebihan metode simulasi antara lain adalah memungkinkan dapat
mencakup detail permasalahan, dapat membandingkan alternatif desain sistem,
dapat mengendalikan skala waktu dan tidak memerlukan sistem. Sedangkan beberapa
kelemahan dari metode simulasi antara lain adalah kesulitan men-generalisir
hasil, kesulitan dalam mengukur sensitivitas, memerlukan banyak waktu untuk
mengembangkan dan
mengeksekusi simulasi, masih
memerlukan validasi dan analisa data out put.
Metode analisa murni, sebagaimana metode pengukuran dan
simulasi juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan metode
analisa murni antara lain adalah cepat, aplikasi untuk
semua tingkatan dari sistem,
memungkinkan mempelajari tradeoff dan sensitivitas dari
sistem. Sedangkan beberapa kelemahan dari metode analisa
murni antara lain adalah kemungkinan hanya sampai pada tahap
aproksimasi, perlu waktu yang lama untuk
mengembangkan model dan
permasalahan, dan sebagainya. [3]
LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN
Penelitian ini akan mengkaji dan
membandingkan kinerja serta
menghasilkan rekomendasi tentang penerapan manajemen akses
jamak secara terpusat dan terdistribusi pada jaringan komputer khususnya yang
diterapkan di Universitas Trunojoyo Madura. Kajian kinerja manajemen akses
jamak terdistribusi, akan dijalankan dalam dua skenario. Skenario pertama
diasumsikan bahwa pembagian bandwidth per kelompok adalah sama. Skenario kedua
diasumsikan bahwa pembagian bandwidth per kelompok akan disesuaikan dengan
distribusi usage of bandwidth per hari. Sedangkan pada kajian kinerja manajemen
akses jamak terpusat, tidak ada distribusi atau pembagian bandwidth kepada
setiap kelompok.
Metode pengukuran kinerja jaringan komputer dalam penelitian
ini adalah metode pengukuran langsung, yaitu mengukur beberapa parameter yang
dapat menunjukkan quality of service (QoS) seperti bit rate dan rata-rata usage
of bandwidth total per hari yang dipakai dalam satu universitas maupun setiap
fakultas. Semakin tingginya bit rate menunjukkan semakin baiknya kualitas
layanan jaringan. Sedangkan semakin besarnya rata-rata usage of bandwidth total
per hari, menunjukkan semakin banyaknya penggunaan/akses jaringan. Semakin
banyaknya penggunaan/akses jaringan akan berakibat pada menurunnya kualitas
jaringan itu sendiri. Data-data pengukuran dapat diperoleh dari rekaman
aktivitas penggunaan jaringan yang diperlukan di PTIK (Pusat Teknologi
Informasi dan Komunikasi) baik pada level fakultas maupun level universitas.
ANALISA HASIL PENELITIAN
Seperti dijelaskan pada langkah-langkah penelitian bahwa
pada pokoknya penelitian ini akan mengkaji kinerja jaringan komputer
Universitas Trunojoyo Madura dalam 3 kondisi :
1. Manajemen multiple access
terdistribusi dengan asumsi bandwidth total dibagi secara
sama rata untuk setiap grup
2. Manajemen multiple access
terdistribusi dengan asumsi bandwidth total dibagi kepada
setiap grup berdasarkan kebutuhan masing-masing grup, yaitu dengan mengukur
rata-rata kebutuhan sebelumnya
3. Manajemen
multiple access terpusat, yaitu tidak ada batasan bagi setiap grup maupun
setiap user, dengan kata lain semua berebut carrier ke scheduler pusat.
Pada skenario pertama, yaitu pengukuran kinerja jaringan
dengan kondisi manajemen akses jamak terdistribusi dan dengan asumsi bandwidth
total dibagi secara sama rata untuk setiap grup, diperoleh data-data seperti
pada tabel 1. Data mentah hasil pengukuran hanya berupa data transaksi Byte
pada masing-masing grup per hari. Langkah pertama dalam proses pengolahan data
adalah dengan mencari “Rt_TB” dalam Byte (Rata-rata Transaksi Byte
masing¬masing grup per hari), yaitu dengan:
Rt~TB
rata − rata transaksi Byte setiap grup per hari
=
fumla it hari
Ternyata jumlah total dari “Rt_TB” atau jumlah total dari
rata-rata transaksi Byte seluruh jaringan komputer di Universitas Trunojoyo
Madura adalah 2.24E+11 Byte atau ± 224 GByte. Kemudian dicari nilai Rt_TB’
(rata-rata transaksi Byte per grup yang baru yaitu dengan membagi sama rata
Rt_TB kepada semua grup) dengan cara:
RtTB
RtTB′ =
fumla grup 224 GByte
=
30
=
7,48 GByte
Permasalahannya adalah rata-rata kebutuhan transaksi Byte
per grup tidak sama satu dengan yang lainnya dan sangat bervariasi dari yang
terendah (grup FP,
3.30E+02) sampai yang tertinggi (grup LABSHARE, 7.00E+10).
Jelas sekali terjadi ketimpangan dalam masalah akses dari kedua grup tersebut.
Sehingga apabila dipukul rata secara kaku bahwa setiap grup akan mendapatkan
jatah transaksi Byte ± 7,48 GByte, maka akan terjadi kekacauan jaringan yaitu
sebagian akan sangat kekurangan dan sebagian besar yang lain akan sangat
kelebihan, seperti tampak pada Tabel 1.
Selisi (Byte) = Rt_TB′ − Rt_TB
Dan dapat dikonversi ke dalam besaran bit rate menggunakan
rumus :
Selisih (bit per sekon)
Selisih (Byte) x 8 bit
=
24 jam x 60 menit x 60 detik
Dari Tabel 1, tampak bahwa sebagian grup akan kekurangan
dalam hal kecepatan bit dan otomatis juga kekurangan bandwidth (bahkan grup
LABSHARE kekurangan sampai ¬ 7.23E+05 bit/sekon atau ± 723 Kbps), sedangkan
sebagian besar grup yang lain akan kelebihan bandwidth (bahkan grup FP
kelebihan sampai 8.65E+04 bit/sekon atau ± 86,5 Kbps). Bagi grup-grup yang mengalami
kekurangan bandwidth akan mengalami akses jaringan yang sangat lambat, karena
jumlah informasi dalam bentuk bit-bit yang akan ditransaksikan sangat besar
padahal bandwidth-nya kecil, yang dalam hal ini adalah jumlah carrier yang akan
membawa informasi besar tersebut sangat kecil dan sedikit. Sebaliknya, bagi
grup-grup yang mengalami surplus bandwidth akan mengalami proses akses jaringan
yang sangat cepat, yang dikarenakan jumlah informasi dalam bentuk bit-bit yang
akan dikirimkan atau ditransaksikan sangat sedikit, padahal bandwidth-nya
besar, yang dalam hal ini adalah jumlah carrier yang akan membawa bit-bit
informasi kecil tersebut sangat besar dan banyak.
Pada evaluasi kinerja skenario kedua, yaitu dengan kondisi
Manajemen multiple access terdistribusi dengan asumsi bandwidth total dibagi
kepada setiap grup berdasarkan kebutuhan masing-masing grup, yaitu dengan
mengukur rata-rata kebutuhan sebelumnya, diperoleh data-data seperti pada tabel
2. Tidak seperti
analisa tabel 1, analisa kinerja pada skenario 2 seperti
tampak pada tabel 2 jauh lebih baik dan lebih adil dibandingkan dengan skenario
1. Grup-grup yang terbiasa melakukan transaksi Byte sangat besar diberikan hak
bandwidth yang besar juga, sebaliknya grup-grup yang terbiasa melakukan transaksi
Byte kecil diberikan bandwidth yang lebih kecil, dengan kata lain disesuaikan
dengan kebutuhan masing¬maing.
Yang menjadi permasalahan adalah, pembagian bandwidth pada
setiap grup tersebut bersifat kaku dan tidak bisa berubah secara otomatis
sesuai dengan jumlah user dan jumlah transaksi. Untuk merubah jatah bandwidth
per grup harus dilakukan secara pengaturan manual. Padahal pembagian jatah
bandwidth pada skenario ini hanya didasarkan pada rata-rata transaksi Byte per
grup. Artinya ukuran jatah tersebut bisa kurang dan bisa lebih seperti tampak
pada tabel 2. Ketika jumlah transaksi pada grup sedang kecil, akan terjadi
surplus dan akses bisa sangat cepat. Sebaliknya ketika jumlah transaksi pada
grup sedang besar, akan terjadi kekurangan carrier dan proses akses akan sangat
lambat.
Tidak seperti pada skenario 1 dan 2, yaitu manajemen akses
jamak terdistribusi yang kedua-duanya bersifat kaku, sistem manajemen akses
jamak terpusat jauh lebih baik karena jatah bandwidth tidak dibagi-bagikan
secara kaku pada masing-masing grup, melainkan diatur secara terpusat oleh
scheduler pusat. User pada level grup tidak akan pernah mengalami kekurangan
atau kelebihan secara pribadi. Dengan sistem manajemen akses jamak terpusat
ini, kekurangan resource jaringan akan ditanggung bersama oleh semua user,
demikian juga kelebihan resource jaringan juga akan dinikmati secara
bersama-sama oleh semua user dari grup manapun. Ukuran-ukuran kecepatan bit
(bit rate) seperti tampak pada tabel 3 akan selalu berubah-ubah secara dinamis
tergantung pada jumlah user dan aktivitas masing¬masing user pada setiap grup.
Tabel 1. Kinerja jaringan komputer Universitas Trunojoyo
Madura dengan sistem manajemen akses jamak terdistribusi dengan asumsi
bandwidth total dibagi sama rata pada setiap grup
No GROUP Rt_TB
(Byte) Rt_TB’
(Byte) Selisih
(Byte) Keterangan Selisih
Bit rate
1 LABSHARE 7.00E+10 7.48E+09 -
6.25E+10 Kekurangan -7.23E+05
2 FT-1 2.64E+10 7.48E+09 -
1.89E+10 Kekurangan -2.19E+05
3 WIFI 1.95E+10 7.48E+09 -
1.20E+10 Kekurangan -1.39E+05
4 UKM 1.64E+10 7.48E+09 -
8.91E+09 Kekurangan -1.03E+05
5 Lab-FE 1.37E+10 7.48E+09 -
6.25E+09 Kekurangan -7.23E+04
6 FP-Labkom 1.32E+10 7.48E+09 -
5.76E+09 Kekurangan -6.67E+04
7 FT-2 9.57E+09 7.48E+09 -
2.09E+09 Kekurangan -2.42E+04
8 REktorat 6.93E+09 7.48E+09 5.53E+08 Kelebihan 6.40E+03
9 RE-Wifi 6.45E+09 7.48E+09 1.03E+09 Kelebihan 1.19E+04
10 Lab-Dasar 6.31E+09 7.48E+09 1.16E+09 Kelebihan 1.35E+04
11 SS-Wifi 6.11E+09 7.48E+09 1.37E+09 Kelebihan 1.58E+04
12 FP-iKL 5.04E+09 7.48E+09 2.44E+09 Kelebihan 2.82E+04
13 Lab-FH 4.96E+09 7.48E+09 2.52E+09 Kelebihan 2.91E+04
14 FISIB 4.44E+09 7.48E+09 3.04E+09 Kelebihan 3.52E+04
15 PUSKOM 3.74E+09 7.48E+09 3.74E+09 Kelebihan 4.33E+04
16 FP-Agri 2.33E+09 7.48E+09 5.15E+09 Kelebihan 5.96E+04
17 FE 1.86E+09 7.48E+09 5.62E+09 Kelebihan 6.50E+04
18 PERPUS 1.70E+09 7.48E+09 5.78E+09 Kelebihan 6.69E+04
19 FP-AgroTiP 1.41E+09 7.48E+09 6.07E+09 Kelebihan 7.02E+04
20 LPPM 1.34E+09 7.48E+09 6.13E+09 Kelebihan 7.10E+04
21 FH 6.18E+08 7.48E+09 6.86E+09 Kelebihan 7.94E+04
22 FP-Admin 5.70E+08 7.48E+09 6.91E+09 Kelebihan 8.00E+04
23 FP-R.Dosen 5.44E+08 7.48E+09 6.93E+09 Kelebihan 8.03E+04
24 UPT-Bahasa 4.21E+08 7.48E+09 7.06E+09 Kelebihan 8.17E+04
25 SS 3.08E+08 7.48E+09 7.17E+09 Kelebihan 8.30E+04
26 HUMAS 2.98E+08 7.48E+09 7.18E+09 Kelebihan 8.31E+04
27 RE.Lt2-wifi 2.19E+08 7.48E+09 7.26E+09 Kelebihan 8.40E+04
28 Dmz 6.32E+05 7.48E+09 7.48E+09 Kelebihan 8.65E+04
29 Localhost 7.01E+03 7.48E+09 7.48E+09 Kelebihan 8.65E+04
30 FP 3.30E+02 7.48E+09 7.48E+09 Kelebihan 8.65E+04
Total 2.24E+11
Tabel 2. Kinerja jaringan komputer Universitas Trunojoyo
Madura dengan sistem manajemen akses jamak terdistribusi dengan asumsi
bandwidth total dibagi berdasarkan pada prosentase kebutuhan masing-masing grup
No GROUP Rt_TB
(Byte) Min TB (Byte) Max TB
(Byte)
1 LABSHARE 7.00E+10 2.44E+10 1.48E+11
2 FT-1 2.64E+10 9.40E+09 4.54E+10
3 WIFI 1.95E+10 1.07E+10 2.50E+10
4 UKM 1.64E+10 8.10E+09 2.54E+10
5 Lab-FE 1.37E+10 4.20E+09 2.43E+10
6 FP-Labkom 1.32E+10 2.50E+09 3.04E+10
7 FT-2 9.57E+09 8.53E+08 2.06E+10
8 REktorat 6.93E+09 2.40E+09 1.28E+10
9 RE-Wifi 6.45E+09 2.80E+09 1.10E+10
10 Lab-Dasar 6.31E+09 3.73E+08 2.01E+10
11 SS-Wifi 6.11E+09 2.20E+09 1.37E+10
12 FP-iKL 5.04E+09 1.50E+09 1.25E+10
13 Lab-FH 4.96E+09 1.40E+09 1.14E+10
14 FISIB 4.44E+09 2.70E+09 6.90E+09
15 PUSKOM 3.74E+09 1.20E+09 7.70E+09
16 FP-Agri 2.33E+09 1.29E+08 6.80E+09
17 FE 1.86E+09 1.20E+09 2.80E+09
18 PERPUS 1.70E+09 5.99E+08 3.50E+09
19 FP-AgroTiP 1.41E+09 8.41E+08 2.90E+09
20 LPPM 1.34E+09 2.19E+08 6.10E+09
21 FH 6.18E+08 1.85E+08 1.40E+09
22 FP-Admin 5.70E+08 4.07E+08 8.47E+08
23 FP-R.Dosen 5.44E+08 1.06E+08 1.60E+09
24 UPT-Bahasa 4.21E+08 4.34E+07 1.10E+09
25 SS 3.08E+08 6.81E+07 5.96E+08
26 HUMAS 2.98E+08 6.70E+07 6.29E+08
27 RE.Lt2-wifi 2.19E+08 1.50E+07 1.10E+09
28 Dmz 6.32E+05 0.00E+00 2.20E+06
29 Localhost 7.01E+03 0.00E+00 3.16E+04
30 FP 3.30E+02 0.00E+00 1.32E+03
Total 2.24E+11
Tabel 3. Kinerja jaringan komputer Universitas Trunojoyo
Madura dengan sistem manajemen akses jamak terpusat
No GROUP Rt UoB (Byte) Rt
bit rate (bit/s) %
1 LABSHARE 7.00E+10 6.48E+06 31.19
2 FT-1 2.64E+10 2.44E+06 11.77
3 WIFI 1.95E+10 1.80E+06 8.67
4 UKM 1.64E+10 1.52E+06 7.31
5 Lab-FE 1.37E+10 1.27E+06 6.12
6 FP-Labkom 1.32E+10 1.23E+06 5.90
7 FT-2 9.57E+09 8.86E+05 4.27
8 REktorat 6.93E+09 6.41E+05 3.09
9 RE-Wifi 6.45E+09 5.97E+05 2.88
10 Lab-Dasar 6.31E+09 5.85E+05 2.81
11 SS-Wifi 6.11E+09 5.66E+05 2.72
12 FP-iKL 5.04E+09 4.66E+05 2.25
13 Lab-FH 4.96E+09 4.59E+05 2.21
14 FISIB 4.44E+09 4.11E+05 1.98
15 PUSKOM 3.74E+09 3.46E+05 1.67
16 FP-Agri 2.33E+09 2.16E+05 1.04
17 FE 1.86E+09 1.72E+05 0.83
18 PERPUS 1.70E+09 1.57E+05 0.76
19 FP-AgroTiP 1.41E+09 1.31E+05 0.63
20 LPPM 1.34E+09 1.24E+05 0.60
21 FH 6.18E+08 5.72E+04 0.28
22 FP-Admin 5.70E+08 5.27E+04 0.25
23 FP-R.Dosen 5.44E+08 5.04E+04 0.24
24 UPT-Bahasa 4.21E+08 3.90E+04 0.19
25 SS 3.08E+08 2.85E+04 0.14
26 HUMAS 2.98E+08 2.76E+04 0.13
27 RE.Lt2-wifi 2.19E+08 2.03E+04 0.10
28 Dmz 6.32E+05 5.85E+01 0.00
29 Localhost 7.01E+03 6.49E-01 0.00
30 FP 3.30E+02 3.06E-02 0.00
Total 2.24E+11 2.08E+07 100.00
KESIMPULAN DAN SARAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini
adalah :
1. Performansi
penerapan sistem manajemen multiple access terdistribusi dengan asumsi
bandwidth total dibagi sama rata pada setiap grup, sama sekali tidak baik
dilakukan, karena selain sifat
pembagiannya bersifat kaku, juga akan menimbulkan
ketimpangan jaringan, yaitu sebagian grup yang kebutuhannya sedikit akan
mengalami surplus bandwidth sedangkan sebagian grup yang lain yang kebutuhan
bandwidth-nya tinggi akan mengalami kekurangan dan proses akses jaringannya
akan sangat lambat. terdistribusi dengan asumsi bandwidth total
2. Performansi
penerapan sistem manajemen multiple access terdistribusi dengan asumsi
bandwidth total dibagi berdasarkan pada prosentase kebutuhan masing-masing
grup, menunjukan lebih baik dari pada pembagian bandwidth secara sama rata. Hal
ini dikarenakan pembagian bandwidth didasarkan pada kebiasan kebutuhan
bandwidth masa lalu dari masing-masing grup. Akan tetapi sistem ini tidak dapat
mengatasi
permasalahan secara otomatis jika suatu waktu tingkat
kebutuhan bandwidth di
masing-masing grup mengalami
perubahan drastis.
3. Performansi
penerapan sistem manajemen multiple access terpusat lebih baik dari pada
manajemen akses jamak terdistribusi, karena jatah bandwidth tidak
dibagi-bagikan secara kaku pada masing¬masing grup, melainkan diatur secara
terpusat oleh scheduler pusat. Segala kekurangan resource jaringan akan
ditanggung bersama oleh semua user, demikian juga kelebihan resource jaringan
juga akan dinikmati secara bersama-sama oleh semua user dari grup manapun.
Sebagai saran untuk penelitian selanjutnya, hendaknya
diusulkan penerapan peramalan yang dinamis terhadap berbagai macam parameter
dan berbagai macam variabel terutama yang terkait dengan pengukuran kinerja
jaringan komputer itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Daryanto T., Ramli K., Budihardjo B., “Analisa Kinerja
dan Implementasi Adaptive Transcoder Pada Jaringan Local Area Network”, Seminar
Nasional
Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI), ISSN : 1907-5022, 2006
[2] Iqbal M.
Dr., “Handout : Analisis Kinerja Sistem”, Universitas Gunadarma, 2012
[3] Hendrawan,
Dr., “Handout : Kinerja Jaringan Telekmunikasi dan Komputer”, Teknik Elektro -
Telekomunikasi - Institut Teknologi Bandung, 2012
[4] Peterson
LL., Davie BS., “Computer Networks A Systems Approach, 3rd Edition”, Morgan
Kaufmann Publisher, 2003
[5] Erdiansyah,
“Jaringan Komputer”, Teknik Elektro, Universitas Hasanuddin, 2007
[6] Hendrawan,
Dr., “Handout : Jaringan Komputer”, Teknik Elektro - Telekomunikasi - Institut
Teknologi Bandung, 2012
[7] Ubaidillah
A., “Studi Kinerja Sistem
Jaringan Komputer Universitas
Trunojoyo Madura (Sampai Februari 2012)”, SIMANTEC, Juni
2012
[8] Ubaidillah
A., “Perbaikan Kapasitas Kanal Jaringan Komunikasi Seluler dengan Metode
Pemecahan Sel, SIMANTEC, Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar